05 February 2008

Solusi Untuk Bangsa Tempe

0 komentar
“Kita Bukan Bangsa Tempe” kata presiden Sukarno suatu ketika. Sebuah konotasi untuk bangsa bermental “jelek”. Namun WHO pernah memberikan julukan lain. Indonesia merupakan “Bangsa Tempe”, karena kebiasaan warga menyantap tempe sebagai lauk sehari-hari. Julukan diatas bukan untuk dipertentangkan tapi boleh jadi itu sebuah ekspresi kata untuk menggambarkan Indonesia.
Tempe dan tahu memang menjadi andalan dalam pemenuhan gizi warga. Ketika protein hewani tak terjangkau karena kian mahal. Tempe dan tahu masih dapat diandalkan dalam pemenuhan protein mesti tak sebagus protein hewani. Paling tidak dalam tempe dan tahu terkandung delapan asam amino diantaranya vitamin B1, B2, B6, B12, antioksidan dan isoflavon, vitamin D, vitamin E dan Sterol.
Harga kedelai kian mahal terjadi karena naiknya kedelai dunia dari U$ 300 menjadi U$ 600 per ton. Padahal dari kebutuhan 2 juta ton kedelai pertahun, produksi dalam negeri hanya 650 ribu ton. Artinya dalam negri hanya memasok 32,5 persen dari total kebutuhan.
Bagi industri makanan, kedelai mempunyai forward linkages yang sangat berarti. Misalnya terhadap industri tempe, tahu, tauco, kecap dsb. Tentu saja ketika kedelai kian melambung, banyak tenaga kerja yang harus dirumahkan. Implikasi lain kemiskinan semakin bertambah seiring harga sembako yang kian naik padahal pendapatan tak urung naik.
Belajar dari Langkah Lalu
Beberapa hal telah dilakukan untuk mengendalikan harga tempe dan tahu yang kian meroket, diantaranya ; pertama, biaya import oleh pemerintah telah dipangkas dari 10 persen menjadi 0 persen. Secara teoritis pengurangan biaya import membuat harga akan stabil karena faktor produksi akan terpenuhi. Disisi lain import justru merugikan petani karena harga komoditas akan melemah.
Kedua, pemberian subsidi di berbagai daerah mungkin dapat membantu sementara agar industri tidak gulung tikar. Tetapi pasti tidak berjalan lama karena keterbatasan anggaran dari APBD. Selain itu pemberian subsidi menyebabkan ketergantungan tak langsung.
Ketiga, mencari subtitusi kedelai. Langkah yang pernah dilakukan diperguruan tinggi untuk mengurangi ketergantungan yaitu dengan membuat tempe dan tahu alternatif. Caranya dengan mencampur kedelai dengan kacang-kacangan lain. Misalnya komposisi 60 persen kedelai dan 40 persen kacang koro. Atau 70 persen kedelai dengan 30 persen kecipir. Walaupun tak senikmat kedelai murni, tapi kandungan gizinya tak kalah jauh. Satu hal yang disayangkan kadang percobaan dari perguruan tinggi tidak ditindaklanjuti upaya kongkrit dari pemerintah sehingga kadang hanya sebatas wacana.
Keempat, revitalisasi pertanian kedelai yang tentu harus dibarengi dengan terobosan baru sebagai pengganti kedelai transgenic. Kedelai ini mengandung GMO (Genetically Modive Organism). Walaupun bulirnya lebih bagus dan lebih besar namun kekhawatiran mulai muncul. Kala ternyata dalam kedelai tersebut disisipi DNA organisme yang dinilai kurang baik untuk kesehatan. Capaian akhir yang ingin dicapai adalah pemberian bibit berkualitas kepada petani. Selama ini bibit yang Non Cualified dielukan sebagai penyebab menurunnya produktivitas. Luasnya lahan potensial untuk kedelai ternyata kontraproduktif dengan hasil panenya.
Dari keempat langkah itu yang dirasa paling efektif adalah revitalisasi pertanian kedelai. Tentu saja melalui ektensifikasi pertanian dan intensifikasi pertanian. Ektensifikasi yang dimaksud dengan memperluas lahan. Lahan yang telah beralihfungsi menjadi penggunaan lahan lain seperti permukiman atau komoditas lain harus digalakkan menjadi lahan kedelai. Ada langkah alternatif lain yang telah dicanangkan Menteri Kehutanan melalui tumpangsari kedelai dengan tanaman reboisasi. Harapannya produksi kedelai berangsur naik.
Untuk meningkatkan produksi kedelai harus dibarengi peningkatan kualitas bibit. Cara tercepat yaitu dengan subsidi harga bibit berkualitas karena lebih mahal dibanding kedelai lokal. Sekedar asumsi jika produksi kedelai sekarang baru sekitar 1,1 ton per Ha, bisa ditingkatkan menjadi 2 ton per Ha layaknya negara pemakai bibit unggul seperti Argentina dan Brasil. Secara teroritis jika 2 ton per Ha dikalikan luas lahan kedelai sekitar 1,4 juta Ha maka hasil produksinya 2,8 Juta ton, alias surplus 0,8 juta ton.
Namun langkah ini tidak tercapai serta merta dan akan dicapai dengan waktu yang relatif lama. Sehingga tinggal kita sebagai “Bangsa Tempe” mampukah menahan hasrat menyantap kedelai dan menggantinya dengan sumber protein lain. Hanya kita yang bisa menjawabnya?? (fata satriya)

Leave a Reply

silahkan diisi.. jika anda punya pendapat atau ide lain

 
Celoteh Fata © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here