03 August 2012

Ghibah yang diperbolehkan

0 komentar
GHIBAH YANG DIPERBOLEHKAN

Pada renungan yang lalu telah dibahas tentang dusta yang diperbolehkan, sekarang akan kita bahas Ghibah yang diperbolehkan. Ghibah itu diperbolehkan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syara' yang mana bila tanpa ghibah tujuan itu tidak tercapai.

Ghibah itu diperbolehkan dalam enam keadaan, yaitu :
1. Penganiayaan.
Orang yang dianiaya itu boleh mengadukan orang yang menganiayanya kepada penguasa atau orang yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menyadarkan tidakan aniaya itu, misalnya orang yang dianiaya itu mengatakan: “si Fulan menganiaya saya dengan demikian”.
2. Minta tolong untuk melenyapkan kemungkaran
serta untuk menegur orang yang berbuat kemaksiatan, misalnya seseorang berkata kepada orang yang diharapkan dapat melenyapkan kemungkara; “Si Fulan berbuat begini” dan lain sebagainya dengan maksud untuk melenyapkan kemungkaran, dan seandainya tidak dengan maksud untuk melenyapkan kemungkaran itu maka hal itu diharamkan.
3. Minta nasehat.
Misalnya ada seseorang berkata kepada orang lain yang diaggap bisa memberi nasehat: “ Saya diperlakukan begini oleh ayah, saudara dan isteri saya, atau oleh si Fulan; lantas bagaimana sebaiknya?”.
4. Memberi peringatan
Dalam hal memberi peringatan atau nasihat kepada kaum muslimin agar terjerumus ke dalam kejahatan.
5. Menegur Kefasikan seseorang
Dengan terus terang menegur kefasikan seseorang seperti kepada orang yang ingin meminum minuman keras, orang yang merampas harta orang lain, orang yang menerapkan kebatilan dan lain sebagainya. Dalam hal ini seseorang boleh berterus terang menegur tindakanya yang tidak benar itu.
6. Memberi pengertian atau kejelasan.
Dalam hal memberi pengertian atau kejelasan, misalnya ada seseorang yang lebih dikenal dengan gelar : "si buta, si tuli, si bisu" dsb. Dalam hal ini seseorang boleh menyebutnya dengan gelar itu; tetapi kalau dengan maksud mengejek atau menghina maka diharamkan. Dan kalau bisa hindarilah gelar-gelar semacam itu.
Inilah enam hal yang telah disepakati oleh para ulama dimana mereka menetapkan pendapatnya itu dengan berlandaskan hadits-hadits shalih, diantaranya yaitu :
1.   Dari Aisyah RA bahwasanya ada seseorang minta izin kepada Nabi SAW, kemudian beliau bersabda : " Berilah izin orang itu, ia adalah orang yang sangat jahat di tengah-tengah keluarganya". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2.  Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Aku tidak mengira sedikit pun kalau si Fulan dan si Fulan itu mengetahui tentang agama kami". (Riwayat Bukhari)
3.  Dari Fathimah binti Qais RA berkata : " Saya datan kepada Nabi SAW dan berkata : Sesungguhnya saya telah dilamar oleh Abul Jahm dan Mu'awiyah". Kemudian Rasulullah SAW bersabda : "Adapun Muawiyah maka ia adalah orang miskin yang tidak mempunyai harta kekayaan, adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah menaruh tongkat dari bahunya (Orang yang suka memukul)". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
     Dalam riwayat muslim dikatakan : " Adapun Abul Jahm maka ia orang yang suka memukul isterinya".
4.  Dari Zaid bin Arqam RA berkata : " Ketika kami berada dalam perjalanan bersama dengan Rasulullah SAW tiba tiba rombongan itu mendapatkan kesulitan, kemudian 'Abdullah bin Ubay berkata : "Janganlah kamu sekalian membantu orang-orang yang bersama dengan Rasulullah SAW sehingga mereka meninggalkan tempat ini"; dan 'Abdullah bin Ubay berkata pula : " Seandainya kami telah sampai kembali di Madinah niscaya orang orang yang mulia itu akan mengusir orang-orang rendahan".
     Kemudian saya datang kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan hal itu kepada beliau, beliau lantas mengutus seseorang untuk memanggil 'Abdullah bin Ubay tetapi ia tidak mengaku terhadap apa yang telah diperbuatnya dan ia menguatkan pengakuanya itu dengan sumpah, sehingga orang-orang di situ berkata : "Zaid telah berdusta kepada Rasulullah SAW". Maka betapa sedihnya hatiku dalam menanggapi apa yang dikatakan sehingga akhirnya Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi-Nya untuk membenarkan saya, yaitu berbunyi : Idza ja'alakal-munaafiquuna dan seterusnya. kemudian Nabi SAW memanggil meraka agar mau memohon ampun, tetapi mereka menggelengkan kepala". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
5.   Dari Aisyah RA berkata: 'Hindun yang isteri Abu Sufyan itu berkata kepada Nabi SAW : "Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang kikir. Ia tidak pernah memberi belanja yang cukup bagi saya dan anak saya kecuali bila saya mengambil tanpa sepengetahuannya". Beliau bersada : " Ambillah belanja yang cukup untuk kamu dan anakmu dengan cara yang baik". (Riwayat Bukhari dan Muslim).


Semoga Bermanfaat
Cianjur, 14 Ramadlan 1433H / 3 Agustus 2012

Leave a Reply

silahkan diisi.. jika anda punya pendapat atau ide lain

 
Celoteh Fata © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here